Senin, 02 Mei 2011

BLOG BASA BANYUMASAN

BLOG BASA BANYUMASAN

Festival Mendoan



mBleketaket



Baturagung



Jeneng




Kawin(an)




Wong Jawa




Pitung Dina




Speedy




Totoan (Senjata) Makan Tuan




Mendem Kecubung




Desaku Sarwadadi

Desaku Sarwadadi



Sarwadadi sebenere asri, ra tau kebanjiran nek udan, mung ya kuwe jembatan Sarwadadi, sing menuju arep meng kuburan wetan, selalune kendang. 
Wis dibangun bolak-balik, sing jerene penunggune ngamuk, kurang sajen lah, mulane kendang terus. 
Nek kaline kebek, wis kena dipastikna Binangun banjir, merga alase wis gundul ditegori entek, nang masarakate. Enggane njajal bayangnya, wong sing jenenge negor kayu jati, kok nganti nggawa trek, nggo ngangkut hasile, kaya anu dueke dewek gulih panen. 
Kon anu  arep ora banjir, tekan ngendi ya mbok. Tapi wong ora pada sadar, alase ditegori kabeh jatine, sampe-sampe ula-ula sing berbisa pada berkeliaran, akeh wong pada mati, dicokot ula sing beracun, merga alase digunduli trus ditanduri palawija. 
Ya ampun aku ndeleng batirku sekolah gemiyen, agi nang MI alias SD, sikile dicokot ula beracun, anu pas agi meng alas nggarap palawija. Jere sikile dicokot ula, aku kaget pol, sampe aku nlangsane, ndeleng bocahe, anu bocah apik, ora nakal dicokot ula, pancen ora mati, tapi ya kuwe sikile bosok, cacat kaya kuwe, mlakune dengklang, melasi banget. 
Kuwe hasile nek alase ditegori kabeh, ora alas lor alas kidul, juga alas wetan, ntek dibabat kabeh jatine. Wong Sarwadadi, Binangun, Bendagede, sekomplek daerah sing termasuk kecamatane Kawunganten, ya umahe apik-apik nganggo jati kabeh.
Ngomong masalah jembatan wetan mau siki wis dibangun apik, dicor kayak jembatan Kawunganten, dadi nek ana banjir mandan ora kendang, alias wis kuat siki. 
Trus dalan Kawunganten mengalor tekan Panggangsurup Nagalor, kae bulak, trus ngalore mbuh tekan ngendi wong aku be ora ngerti, tapi jerene ya wis dialusi maning, tapi ya kuwe, kawit mbiyen didandani bola-bali, kok tetep bae, ahire hancur. 
Trus samben-samben aku bali meng desaku, ra tau menangi sing jere dalane nang mbulak alus. 
Apamaning jan nek agi musim udan, nek arep meng Kawungaten, ngedap, merga dalane sing pating grudak, nek agi udan, nek nang mbulak, nek numpak motor, sikile lorone diangkat meng nduwur ben kathoke, sing nganggo kathok dawa, ora kotor. Ya numpak motore, ya kudu alon-alon, nek ora ya blethek, nang banyu kotor.
Mudah-mudahan ya kuwe saiki dalane alus, nganti mengko aku bali insyalloh taun ngarep, mbene aku bisa jalan2 numpak motor dewek, meng Kawunganten.
mBokya pak GEDE PENGURUS KAWUNGANTEN mandan diurusi masalah dalane!!!
http://cewekndeso.blogspot.com/2007/11/njajal-alias-nyoba-tk-njajal-nulis-lah.html


Kecamatan Kawunganten
- Kelurahan/Desa Babakan (Kodepos : 53253)
- Kelurahan/Desa Bojong (Kodepos : 53253)
- Kelurahan/Desa Bringkeng (Kodepos : 53253)
- Kelurahan/Desa Grugu (Kodepos : 53253)
- Kelurahan/Desa Kalijeruk (Kodepos : 53253)
- Kelurahan/Desa Kawunganten (Kodepos : 53253)
- Kelurahan/Desa Kawunganten Lor (Kodepos : 53253)
- Kelurahan/Desa Kubangkangkung (Kodepos : 53253)
- Kelurahan/Desa Mentasan (Kodepos : 53253)
- Kelurahan/Desa Sarwadadi (Kodepos : 53253)
- Kelurahan/Desa Sidaurip (Kodepos : 53253)
- Kelurahan/Desa Ujungmanik (Kodepos : 53253) http://organisasi.org/daftar-nama-kecamatan-kelurahan-desa-kodepos-di-kota-kabupaten-cilacap-jawa-tengah-jateng



Sarwadadi, desa pengekspor TKI

Sarwadadi, sebuah desa di kecamatan Kawunganten yang sebenarnya tidak terpencil, namun terisolir karena kondisi jalan yang rusak parah. Padahal Sarwadadi masuk ke wilayah kabupaten Cilacap yang notabene punya kilang minyak yang mempunyai residu bernama aspal. Sebagian wilayahnya dihampari pesawahan subur dengan irigasi dari bendung Manganti. Kontras sekali dengan pesawahan di Kawunganten sebelah selatan yang berawa dan dipengaruhi rob.

Walau sedikit terisolir, pendapatan perkapita warga Sarwadadi termasuk tinggi. Ini bisa dilihat dari sebagian warganya yang punya rumah cukup mentereng walau di kampung. Yang sebagian lagi rumahnya mungkin biasa-biasa saja, namun jangan salah bila sawah atau kebunnya cukup luas. Namun ada sedikit yang disayangkan, tingginya pendapatan tidak berarti kesadaran untuk meraih jenjang pendidikan ikut tinggi. Warga yang sampai masuk ke jenjang kuliah bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar merasa cukup dengan ijasah SMP atau SMA untuk kemudian memilih pergi keluar negeri sebagai TKI.

Tak heran bila kebanyakan warga Sarwadadi begitu gembira bila punya anak perempuan. Buat mereka anak perempuan adalah tumpuan harapan masa depan yang cerah, karena perempuan lebih mudah dipekerjakan di luar negeri dan bisa tanpa biaya. Ini berbeda dengan laki-laki yang bila ingin keluar negeri tanpa lewat program G2G, paling tidak membutuhkan dana antara 20 - 50 juta rupiah.

Perbedaan kondisi laki-laki dan perempuan inilah yang kadang membuat anak laki-laki cenderung milih diam di rumah menunggu kiriman dari kakak perempuannya. Untuk yang sudah berumahtangga pun banyak kasus serupa. Sementara istri kerja di luar negeri, suaminya ongkang-ongkang kaki menikmati keringat istrinya. Tapi tidak semuanya begitu, cukup banyak pula yang menginvestasikan kiriman devisa itu untuk beli sawah atau kebun, sehingga si istri tak perlu terus menerus berangkat setelah modal usaha dianggap cukup.

Yang bisa investasi semacam itulah yang biasanya sukses di masa depan dalam artian bisnis berjalan keluarga tak perlu tercerai berai. Yang agak kacau biasanya mereka yang panasan atau terlalu besar gengsi. Tipe ini kebanyakan membelanjakan uangnya untuk membangun rumah sementereng mungkin. Ketika rumah jadi, mereka sibuk mencari devisa tambahan untuk mengisinya. Padahal rumah besar tentu isinya harus banyak agar tidak terkesan melompong. Jadilah sepanjang hidup hanya untuk mengejar uang demi gengsinya melalui rumah. Ketika tiba masanya harus pensiun, mereka mulai kelabakan. Iya kalo lokasinya strategis, bangun rumah di pinggir kali jauh dari jalan saja sampai bertingkat 3 kamarnya 8, kalo dijual apa ya ada yang mau beli kalo tidak dibanting harga..?

Negara tujuan secara umum terbagi dua. Mereka yang berumur atau latar belakang pendidikannya agak kurang biasanya pergi ke arab. Bisa dimengerti karena kebanyakan tanpa biaya dimuka dan mereka tak begitu peduli dengan kebebasan. Yang muda muda atau lebih terbuka pikirannya kebanyakan memilih ke negara asia yang lebih bebas. Disana akses komunikasi dan internet relatif tak terbatas.

Cukup banyak TKI asal Sarwadadi yang memiliki prestasi dalam bidang tulis menulis atau berbagai kegiatan di dunia maya. Seperti blogger beridentitas cewekndeso yang ternyata otaknya begitu jenius plus penuh perhatian ke daerah asalnya, sampai-sampai mendedikasikan segenap energinya yang tersisa untuk mengelola website cilacap online. Selain itu ada juga blogger berjudul cewekbiasa yang ternyata sangat luar biasa. Cuma untuk yang satu ini, katanya off the record.

Sebagai desa penghasil TKI, jangan salah bila warganya banyak yang begitu fasih berbahasa arab atau mandarin sebagai bahasa kedua. Secara kasar anak Sarwadadi begitu lahir ceprot tidak bilang oeee, tapi nihao ma. Namun justru kedekatan kultural yang ditanamkan sejak dini ini yang menjadi modal utama saat mereka merantau ke negeri orang. Mereka yang sebenarnya bisa dibilang orang kaya, tinggal di rumah bagus dengan perabotan elektronik serba otomatis, namun tidak malu untuk berstatus mbabu. Paling tidak, pendekatan itulah yang bisa mengurangi kekerasan majikan terhadap pekerja rumah tangganya.

Sudah menjadi rahasia umum bila kebanyakan PJTKI cuma mau cari untung dan kejar setoran doang. Pelatihan bahasa dan kecakapan rumah tangga diberikan asal saja. Akibatnya pekerja yang tak terbiasa dengan peralatan elektronik plus kurangnya kemampuan bahasa, akan jadi pemicu terjadinya kekerasan. Beberapa teman TKI bilang, bahwa kekerasan itu bukan semuanya karena majikan sadis. Banyak juga kejadian yang dipicu oleh pekerja yang kurang skil atau kemampuan bahasa. Akibatnya apa yang diperintahkan majikan tak sepenuhnya dipahami pekerja. Siang hari bolong majikan minta air es, malah direbusin air. Bayi nangis suruh dikasih biskuit bayi malah dikasih biskuit lebaran atau pisang siyem. Disuruh bikin kue, begitu adonan dimasukan oven, microwavenya ditaruh diatas kompor. Ya pantes saja majikan ngambek.

Mereka yang akan jadi TKI mungkin bisa belajar tentang pendekatan kultural ini ke warga Sarwadadi. Mengandalkan PJTKI atau pemerintah sama juga boong. Hasilnya akan seperti kasus indomie di Taiwan kemarin. Biar kata kita teriak-teriak indomie lebih aman dibanding indocement, tetap saja mereka tak mau tau. Padahal permasalahannya tak begitu rumit dan cuma soal pengakuan kultural saja. Coba nama indomie diganti taimie, kayaknya beres deh...

Siaran langsung dari pertigaan Cigebret Sarwadadi sambil ngemut gembus anget...
http://blog.rawins.com/2010/12/sarwadadi-desa-pengekspor-tki.html

UKARA BANYUMAS

UKARA BANYUMAS




Dénéng





Wong Banyumas, ari takon cokan nganggo tembung “dénéng” . E nang kene goleh ngucapna kaya nang tembung “émbér”. Manggua nang aksasa jawa nganggo sandhangan taling.

Deneng kuwe artine ya : kok, mengapa, kenapa, why.
 

Siki contone:
“Dénéng kowe numpak motor ora helman?”
Artine:
“Kok kamu naik motor nggak helman”
Mudheng mbok?
Oh iya, “dénéng” ya disingkat dadi “déng” , teges karo cara nganggone padha bae karo “deneng”
http://maskurmambangr.wordpress.com/2010/07/26/deneng/

Bebeh


 

Bebeh kuwe salah siji tembung khas Banyumas.
Bebeh pengucapane kaya angger ngomong lenga (minyak), jelas, gerah. Utawa angger nganggo aksara jawa, pasangane pepet.
Bebeh kuwe artine : emoh, tidak mau, wegah, tidak mau. Contone nang ukara:
“Aku bebeh nek kon nginum jamu.”
artine
“Aku moh yen kon ngombe jamu.” (bandhek)
“Aku nggak amu kalo suruh minul jamu.” (indonesia).
http://maskurmambangr.wordpress.com/2010/08/05/bebeh/


Nglombo



Tembung khas Banyumasan maning kiye
Nang Banyumas ana tembung “NGLOMBO”‘, artine bohong utawa angger basa bandhék ya Ngapusi.
Contone angger ana wong ngomong :
“Aja nglombo.”
artine ya
“Jangan bohong.”
utawa
“Aja ngapusi.”
Nek ditambahi panambang ni, dadine NGLOMBONI. Artine : berbohong, membohongi.
Mudheng mbok?
“Aja padha seneng nglomboni ya, dosa!”
http://maskurmambangr.wordpress.com/2010/08/08/nglombo/


nDéyan



Sinau basa Banyumasan maning kiye. Nang basa Banyumasan, ana tembung “nDeyan” . Tegese kurang lewih : Kayane, Ketokke, Mungkin, Sepertinya, May be.
Dadi nek ana ukara:
Inyong ndeyan arep ndaftar PNS.
Artine :
Aku mungkin akan mendaftar PNS.
Gampang mbok? Ngesuk ndeyan aku arep nulis tembung – tembung Banyumasan maning.
http://maskurmambangr.wordpress.com/tag/basa-banyumasan/



Ngenalna Basa Ngapak Banyumasan

Ngenalna Basa Ngapak Banyumasan


Kiye ceritane enyong arep ngenalena basa Banyumasan nggo wong Jawa tapi sih basa jawane ora ngapak lan nggo wong seberang.
Bocah-bocah sing asale sekang Karesidenan Banyumas, termasuk kuwe daerah Cilacap, Kebumen, Gombong, Banyumas, Brebes, Tegal, Banjarnegara lan daerah sekitare. Jaman siki, akeh cah-cah enom sekang Karesidenan Banyumas kuwe pada isin nek kon ngomong nganggo basa Banyumasan, mbok diguyu karo kancane sing  sekang daerah Jawa liyane, jare basane lucu lan geguyokna.

Jajal, nek rika ngerti, sapa maning ndeleng sing arep ngelestarikna basane dewek nek ora enyong karo rika. Tulisan kiye cocok nggo sinau wong sing kang daerah Semarang, Jogja, Solo, apa Jawa daerah Jawa Timuranlah. Tapi nek rika udu wong Jawa, ya ora papa nek arep sinau basa Banyumasan. Men lewih kepenak, nang ngisor artikel kiye tak wenehi kamus cilik mesti enyong ngandel rika pada ngerti lan mudeng pas maca tulisan kiye, mung ora bisa ngomonge. nek rika anu udu wong jawa ya mesti bingunge maca tulisan kiye.
Mulane kang, mbok ayu, golet kanca sing sekang Banyumas, men tambah wawasanane lah, soale apa? Wong Jawa kuwe ana nang endi papan, tanah Jawa kuwe wis sesek, kakehen wong, mulane siki wong Jawa ana sing nang Sumantra, Kalimantan lan papan liyane, ngasi nang Arab, Hongkong, Jepang lan Amerika baen, ana wong Jawa, ya mung seneajan dadi TKW apa TKI. Mulane basa Jawa kue penting, jan penting banget.
Enyong bae kiye wis urip nang Jogja meh 7 taun, wis mandan kelalen, lah wong amben dina nganggo basa indonesiya. Mulane ngapake enyong uwis arep ilang. Men ora ilang ya tak tulis bae kiye nang blog. lah anane tulisan kiye ya men ngajak rika pada sing sekang Banyumas,  men dewek kuwe istilahe sih agi keren jere “PEDE” percaya diri kaya kuwe. Tapi seurunge enyong nerusna nulis, ya njaluk ngapura benget nek basa ngapake eyong wis ora asli, kecampur campur karo basa indonesia. Dadi, nek rika pas ujian basa ngapak ulih angka 700 (pitung ngatus) meng nduwur nek enyong luput ya di benerna ya kang, mbokayu, wis enyong  mulai disit sekang perkara sih sepele.

Babagan perkenalan
Nek rika arep golet kanca utawa golet bojo saking Karesidenan Banyumas, rika kudu bisa ngapak, kudu! Wajib pokoke. Bapakku baen sing sekang Jogja siki ya wis ngapak kok… soale biyungku wong Cilacap, sing basane esih ngapak asli. Nek rika meng Banyumas biasane wong takon maring dewek kaya kiye pertakonan. Pertakonan kiye kabeh enyong tulis nggo rika pada

Rika jenenge sapa sih? jawabane : "Enyong jenenge Bawor“.
Bawor di ganti jenenge asli rika.

Pertakonan babagan lelungan
(darimana)
Rika sekang endi? jawabane: ”Enyong sekang Purwokerto”.

Pertakonan babagan gawean
rika kerja nang endi kang? jawabane :“Enyong tah urung kerja, golet kerjaan angel banget kok..”.

Kiye mung pengantar… tapi rika kudu emut kang, nek ngomong kaya nang contoh kuew nek dewek kuwe seumuran. tapi nek dewek ditakoni wong sih lewih tua, contone bakalan mertua, ya rika nganggo basa persatuane wong Jawa, basa kromo. dicatet kuwe….
“Rika wis mangan urung?” aja di jawab : ”Urung, wong ora ana sing dipangan”, rika bisa di anggepe wong sing ora duwe tata krama, mbajuk karo wong tua, mending rika jawabane standar Jawa lah ya,,, jawaban sing alus ya :“Dereng, kulo dereng ngelih”. Nah kaya kuwe disit ya ngesuk enyong sambung maning babagan basa ngapak lan werna-wernane. Pokoke basa ngapak keren pisan koh.

Kamus
Nek rika pas maca tulisan nang duwur bingung, enyong gawe kamus cilik nang ngisor, tak gawe kamus Jawa ngapak-> basa Indonesia men wong sing kang seberang ya pada mudeng.

Enyong = Aku
Kula = Saya
Kowe = Kamu
Rika = Sampeyan = Anda
arep = Akan
glitho = Jitak
wong = Orang
mudeng = Paham
golet = Mencari
kanca = Teman
Kiye = ini
kuwe = itu
nang kene =di sini
nang kana =di sana
ngandel = percaya
http://jejakcandra.wordpress.com/2009/08/12/ngenalena-basa-ngapak-banyumasan/



Dialek Banyumasan

Jawa baku

Indonesia

agèh ayo ayo
ambring sepi sepi
batir kanca teman
bangkong kodok katak
bengel mumet mumet
bodhol rusak rusak
brug kreteg jembatan
bringsang sumuk panas
gering kuru kurus
clebek kopi kopi
londhog alon pelan
druni medhit pelit
dhongé / dhongané kudune harusnya
egin isih masih
gableg duwé punya
getul tekan datang
gigal tiba jatuh
gili dalan jalan
gujih rewel rewel
jagong lungguh duduk
kiyé iki ini
kuwé iku itu
letek asin asin
maen apik baik
maregi nyebeli buruk
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa_Banyumasan#Perbandingan_kosakata_Banyumasan_dengan_bahasa_Jawa_baku

MARIA

MARIA 


Jam 22.30. Inyong wis ora kongang nyagak mata. Karepe egin kepingin nerusna nonton pilem barat neng tipi. Mbangane keturon neng lincak plupuh empring, inyong mlebu senthong mapan turu.

Nembe baen slonjor, sekang arah mburi ngumah ijig-ijig keprungu swara radio disetel, swarane kemresek presis kaya glombang MW kaya jaman aganu. Banjur keprungu swara wong wadom enom nyeluk-nyeluk inyong, “Par Gopar, Par Gopar,” lha wong ana swara nyeluk-nyeluk kaya kuwe ya nyong semaur, “Apa.”

Swara wong wadon kuwe njur keprungu maning, inyong ya semaur maning, “Apa Yung?” tek pikir-pikir koh kayong swarane biyunge agi nyeluk-nyeluk inyong. Gagean mlayu sipat kuping mlebu senthonge biyunge, jebule biyunge agi turu karo bapane, gole ngorok mantep pisan.

Inyong nembeke emut, kuwe dudu swarane biyunge. Swarane sapa maning nek dudu swarane lelembut? Inyong mrinding, wulu kalong neng nggithok njegrig. Banjur nyebut asmane Gusti Allah, “Astaghfirullahal’azhim,”

Gagean inyong nylingkrig ngambene biyunge, turu neng tengah-tengahe bapane kambi biyunge. Biyunge dadi tangi.

“Ana apa Par? Wis wengi koh ndadak pecicilan?”

“Lha genah nembe krungu swara wong wadon nyeluk-nyeluk koh, nyong ya semaur.”

“Jebule swarane sapa?”

“Genah ana swarane ora nana wonge koh.”

“Hush…kowe ya luput. Dhonge toil aja semaur, kuwe swara setan. Ngerti swara kaya kuwe disemauri. Mulane angger garep mapan turu maca donga aring Gusti Allah ndhisit, paling sethithik maca Al Faete’ah ping telu,” inyong malah diomeih biyunge.

“Inyong ya ora luput ya. Sapa ngira nek kuwe dudu swara menungsa?”
Bar kuwe, let telung wulan swara sing presis keprungu maning. Sedurunge keprungu uga dewiwiti swara ngosos kaya glombang radio transistor sing nganggo glombang MW.

“Sssssss….. Par … Gopar…. Ssssss Par … Gopar.”

Merga wis ngerti dudu swara menungsa, nyong babar plothas ora nggople. Malah, arah asal swara kuwe tek pendeliki. Nyong ora mrinding sethithik-sethithik acan. Selot suwe swarane ilang karepe dhewek.

Let setahun bar kuwe, eh .. delepen swara kuwe keprungu maning. Wiwitane ya presis kaya sing ndhisit, ana swara ngosose. Nyong uga ora nggople aring swara kuwe.
Seploke kadadian kuwe, seprana-seprene wis ana setaun. Swara kuwe wis ora tau keprungu maning. Inyong wis klalen karo kedadean kuwe, uga wis ora tau nggagas babar pisan.
**
Biyunge nembe bae bali kumpulan dasa wisma. Dheweke nyritakna dopokane kambi Mbok Dakem.

“Par, mau inyong ngetuprus kambi Mbok Dakem. Dheweke nyritakna anak wadone sing bola-bali diparani wong wadon enom ayu blesteran Landa, jenenge Maria.”

“Lha bocah wadon kuwe anu batir sekolahe apa Yung?”

“Dudu.”

“Lha sapa?” inyong penasaran.

“Engko dhimin, mulane aja cokan nrombol wong tua agi crita,” matane biyunge rada mendelik.

“Lha terus keprimen?”

“Lha mulane meneng. Critane garep diterusna apa ora?” biyunge mutung..

“Ya terusna koh!”

“Pas diparani, Sajem dopokan karo wong wadon enom blesteran Landa, jenenge Maria. Jere, aganu Maria dirudapaksa karo wong lanang jahat. Merga sing ngrudapaksa anu kenal, Maria dadi dipateni. Mayite diguang aring pereng mburi umahe Kaki Sanmiarja.”

Inyong mrinding ngrungokna critane biyunge.

“Lha kuwe Sajem gole diparani Maria anu temenan apa kur neng impen?

“Jere biyunge sih kanan-kanane anu kayong ngimpi, kayong ora.”

“Yung, inyong koh dadi kemutan karo swara wong wadon sing aganu nyeluk-nyeluk nganti ping telu, swara sing keprungu angger inyong garep mapan turu. Aja-aja, kuwe swarane Maria ya Yung?”

“Genah iya koh. Nyong be nduwe pikiran kaya kuwe,” semaurane biyunge.

Miturut inyong karo biyune, ora nana sing jere wong mati ngeton maning. Jere guru agamane inyong jaman egin sekolah, kuwe anu setan sing mujud menungsa.
Merga nduwe rasa penasaran aring critane biyunge, inyong dadi ora sranta kepingin nemoni Sajem, kepingin krungu aring wong sing nduwe crita. Sekang kaca mbalene, Sajem keton agi nonton acara inpotaimen neng tipi.

“Ana apa Par, kayonge koh kedhagar-dhagar nemen gole ngeneh,” pitakonane Sajem.

“Genah inyong bar dicritane biyunge koh. Jere ko sering ditemoni wong wadon enom blesteran Landa jenenge Maria? Deneng kawit gemiyen koh aora tau kandhahan. Kuwe anu keprimen?”

“Genah iya koh Kang. Ya pokoke kayong ngimpi, kayong ora,.” omonge Sajem.

“Lha keprimen sih critane? Nyong koh penasaran banget.”

“Gole diparani angger nembe ngliyeb turu. Kanan-kanane inyong dopokan kambi Maria. Dheweke ngaru-ara kambi nangis mewek-mewek, rikala agi dus-dusan neng kali Wedhus mburi umahe Kaki Sanmiarja, dheweke diperkosa neng tentara Landa, banjur depateni. Mayite dipendhem neng ngisor wit ringin pereng kali.”

“O, dadi kaya kuwe critane. Lha angger dheweke garep nekani kowe keprimen?”

“Rika kemutan jamane radio egin transistor? Pokoke swarane dibarengi swara ngosos kaya golombang radio MW.”

Krungu critane Sajem, githoke inyong dadi mrekinding disco.”

“Lha deneng sih debarengi swara kemrosos kaya sawara glombang radio MW? Inyong apa ora sih, tek etung-etung ana ping telu ketekan swara kaya kuwe. Sedurunge ya kemresek, banjur keprungu swara wong wadon enom nangis mingsek-mingsek kambi nyeluk-nyeluk inyong.”

“Hah, rika ya ditekani? Lha kuwe anu neng impen apa temenan?

“Genah iya koh. Anu temenan, ningen kur krungu swarane.”

"Lha rika semaur apa ora?” Sajem takon.

“Lha ya semaur, sapa ngira kuwe dudu swara menungsa. Ningen, sing kepindo karo ketelu nyong wis ora semaur.”

“Aja-aja kuwe swarane Maria ya?” Sajem nyocogna.

“Genah iya koh, nyong ya nduwe pengira-ira sing kaya kuwe. Mulane inyong gagean ngeneh. Ndean kuwe pancen swarane Maria, Jem.”

Inyong karo Sajem dadi njekethet-njekethet.

“Pancen Jem, jerene wong tua-an, pereng kali Wedhus sing presis mburi umahe Kaki Sanmiarja kae pancen angker, ana kunthine. Inyong ngger anu be cokan krungu wong wadon ngguyu cekikikan.”

“Gole ngguyu keprimen jajal?” Sajem takon.

“Ya kaya kae, antara ngguyune menungsa wadon enom karo swara walang kerik lagi ngerik, kik ki kik kik kik …” wangsulane inyong.

“Seh, deneng sih presis karo pengrungone inyong ya?”

Wulu kalong sing neng githok njegrig maning.

“Jem, kanan kanane, Maria kuwe wujude kayangapa?” inyong takon.

“Wujude ayu pisan koh, kaya artis sinetron. Anggon-anggone senenge srawa putih. Kulite pitih resik, irunge mbangir mincis-mincis, dedege dhuwur, rambute lurus dirembyak segeger.”

“Lha ngger nyeluk-nyeluk inyong ndean ya anu garep wadul ya Jem,” jere inyong.

“Iya kuwe, rika anu garep nggo jugang pawuan.”

“Ora usah digople kuwe Jem. Kuwe tuli anu setan sing agi mujud menungsa. Ora kajat, nek ana wong sing wis mati koh teyeng meruih menungsa.”

“Iya pancen, Kang Gopar.”

Mbengi kuwe, kebeneran pas malem minggu. Inyong kambi Sajem mlipir perenge kali Wedhus sing presis mburine Kaki Sanmiarja. Rekane garep nguji nyali nggoleti Maria. Inyong jane ora wedi, ningen ethok-etohoke wedi, ben teyeng ndhempel pundhake Sajem karo ngremed tangane.

Neng perenge kali Wedhus, prsesise neng ngisor wit ringin, mbengi kuwe inyong dadian karo Sajem. Inyong janji nek gelem ngiyomi uripe Sajem, uga kandhah nek garep nglamar pas wulan besar, inyong uga janji garep nggolet gawean apa baen, sing penting khalal, dadi kuli tagog ya gelem. Uga, inyong janji garep mareni nenggak gepengan.

“Ya age-age baen nggolet gawean Kang, ben gagean teyeng ijab”

“Beres Jem.”

Sajem ora nolak, karo apa sing tek kandhahna. Adhuh, inyong bungahe jan. Rembulan sing agi njedhul sethithik-sethithik nginggeng rikala agep ngambung lambene Sajem. Jebule, Maria uga ora gelem kalah karo rembulan. Dheweke uga melu nginggeng sekang ngisor wit so karo ngguyu cekikikan. Kik kik kik kk kik …. inyong dadi wurung. Asem, Maria ngriwugi lho.

http://banyumasnews.com/2010/01/16/maria-cerita-cekak-banyumasan/

Kiriman TKI

Kiriman TKI



Maca koran sing digelar nang alun-alun kaki Bawor mesem. Peng­asilane Tenaga Kerja Indonesia (TKI) nang luar negeri sing dikirim maring ndesa nyandhak angka Rp. 400 milyar, tegese padha karo Pendapatan Asli Daerah (PAD) Cilacap sejroning setaun. Kirim­an kuwe kira-kira sepertelone Anggaran Pendapatan lan Belanja Daerah (APBD) Cilacap sing gunggunge Rp. 1100  milyar.

“Waladhalah… gedhe temenan ya kirimane TKI kanggo desa, daerah lan negara”, udarasane kaki Bawor, karo ngempakaken udud klembak menyan nang lambene sing tambah ndobleh.

Nurut laporan sing diwaca kaki Bawor nang koran, kiriman  dhuwit TKI sing nyambut gawe nang luar negri  saben taun terus mundhak. Mergane, jumlah TKI sing mangkat nyambut gawe nang luar negri uga tansah mundhak. Paling ora, meh nyandhak angka 10.000 TKI sing saben taun mangkat maring luar negri golet  rejeki. Sekang jumlah kuwe, sangangpuluh (90) persen TKI wadon.

Tujuan ngodhe TKI sekang  Cilacap, paling akeh maring Malaysia/Singapura. Disusul maring Timur  tengah, terus maring asia timur, yakuwe Taiwan, Korea Selatan lan Hongkong. Paling akeh padha nyambut gawe nang sektor informal, upamane, pembantu rumah tangga.

“Ramane maca koran koh karo mesem-mesem, ana apa sih, apa ana sing lucu”, takone Kaki Pardi, pensiunan pegawai PU sing anake wis padha lulus sarjana.

“ Eee… kaki Pardi, kiye inyong lagi maca, pengasilane TKI nang luar negri meh nyandhak angka Rp 400 milyar  setaun. Apa ora maen sih.

“Iya bener kakine, kiye berkah kanggo dhaerah. Mergane dhaerah lan negara pancen durung bisa nyedhiyakaken lapangan kerja kanggo tenaga kerja sing semono akehe. Apamaning sekiye, sektor per­tanian sing dadi andelane dhaerah-dhaerah nang Jawa pancen wis ora disenengi dening kawula mudha. Kawula mudha lewih seneng ninggal desa. Sing isih keri, lewih seneng dadi tukang ojek ketim­bang nyambut gawe nang sawah” ujare kaki Pardi.

“Lha kuwe sing sekiye dadi crita. Mulane, sawah sethithik-se­thithik mulai ganti  tanduran. Sawah sing maune ditanduri  pari, sekiye ditanduri saka beton. Jajal sih contone, kota Purwokerto sing maune nang tengah kota ana sawah sing amba ngemplak-ngemplak, sekiye malik dadi perumahan, pertokoan, nganti dadi terminal”, kaki Bawor pikirane temlawung adoh.

Mung pesenku maring para calon TKI sing arep mangkat maring luar negri, lan uga kanggo Pemda, jajal sih para calon tenaga sing arep mangkat, ditambah latihan-latihan sing kanggo gawe nang negara liya. Upamane, angger dadi pembantu rumah tangga, uga kudu pinter masak, tata dhahar, ngumbah-umbah, nyetrika, be­benah lan pegaweyan liyane maning. Nang segi hukum, ana per­lindungan hukum sing pantes kanggone TKI nang luar negri. Merga apa, TKI seliyane dadi penghasil devisa, uga dadi duta bangsa. Dadi, aja disewiyah kanggone TKI sing nyambut gawe nang luar negri. KLILAN.

http://www.panjebarsemangat.co.id/2011/04/25/kiriman-tki/




Minggu, 01 Mei 2011

Raden Tumenggung Dipoyudo IV

Raden Tumenggung Dipoyudo IV



Ramane, inyong arep takon sapa sing mbangun lan trukah ngedegaken kota lan kadipaten Banjarnegara?  Manut babad sejarah Banyumas, sing mbangun lan ngedegaken Kota lan kadi­paten Banjarnegara Raden Tumenggung Dipoyudo IV,  jumeneng Adipati Banjarnegara tanggal 22 Agustus 1831. Ningen inyong tau maca, jere adipati kawitan nang Banjarnegara kuwe Adipati Wira­yuda, putrane adipati Wirasaba” Mbekayu Tebok takon maring Kaki Bawor sing lagi ngrungokaken radio sekang RRI Pur­wokerto karo udud.

“Ko bener Tebok, Raden Tumenggung Dipoyuda sedurunge dadi Bupati Banjaregara ngasta dadi Bupati Ayah, saiki wilayah Kebumen. Amarga jasane tumrap Kasunanan Surakarta lan peme­rintah (waca Kompeni Landa), Dipoyuda IV dipindhah sekang kadi­paten cilik maring kadipaten sing luwih jembar, yaiku Banjar­watu­lembu. Nanging sakdurunge dipindhah, Dipoyudo IV nduwe panyu­wun marang Sunan, yaiku dikeparengake mindhah kota kadi­paten sekang sisih lor Kali Serayu maring kidul Kali Serayu. Utawa Sekang Banjarwatulembu maring wilayah sing anyar, kang banjur dijenengi Banjarnegara.

Wektu  Dipoyuda IV dipindhah sekang Ayah maring Watulembu, daerah Watulembu statuse isih dhistrik. Merga, bupati sakdurunge yakuwe Mangunjudo II melu dadi perjurite Pangeran Diponegoro. Mulane Mangunjudo II banjur dilereni dadi adipati Banjar­watu­lembu lan wilayahe didhunaken sekang kadipaten dadi dhistrik. Nanging sakwise Dipoyudo IV diangkat dadi adipati, statuse dijunjung maning dadi kadipaten lan kota kadipatene dipindah sekang Banjarwatulembu maring Banjarnegara.

“Kenangapa Dipoyudo mindhak kota kakdipaten sekang Watu­lembu maring Banjarnegara? mbekayu Tebok Isih takon.

“Salah siji alesane yakuwe, Banjarwatulembu panggonane nang lor Serayu, kota kadipaten anyar nang kidul; kali Serayu. Padahal, dalan utama nang kadipaten Banjarnegara, anane nang kidul kali. 

Dadi angger nang lor kali, hubungan komunikaksi lan transportasine susah. Apamaning angger udan gedhe, kali Serayu banjir lan iline kali dadi deres. Wektu semono durung ana brug (jembatan) kaya saiki. Dadi angger wektu udan, pancen rekasa temenan. Pertim­bangan liyane, mbokan, nang Watulembu isih akeh para perjurite Pangeran Diponegoro. Senajan Pangeran Di­po­nengoro wis dibuwang maring Makasar, nanging pengaruhe maring rakyat isih gedhe banget.

Pemerintah Landa, sewise ndeleng kemajuane Banjarnegara, uga terus melu mbangun umah dines Asisten Residen kang mang­gon nang sisih wetan alun-alun Banjarnegara. Nanging nalika jaman kemerdekaan, rumah dines asisten residen dibakar dening tentara republik. Saiki bekas kantor asisten residen didadekaken gedhung pemerintah dhaerah.

Sapa Dipoyudo IV? Bupati Banjarnegara kawitan kuwe isih wayah dalem Bupati Purbalingga I, Raden Tumenggung Dipoyudo I lan teksih keturunan Raden Tumenggung Yudonengoro I, Bupati Banyu­mas. KLILAN.

http://www.panjebarsemangat.co.id/2011/03/18/raden-tumenggung-dipoyudo-iv/


Jaman perang Diponegoro, wilayah Banjarnegara dipimpin R. Mangun Broto karo Mas Ranudiredja ning bar perang kuwe rampung taun 1830, Sri Susuhunan Pakubuwono VII ngusulna R. Tumenggung Dipoyudo IV sing wektu kuwe esih dadi penguasa nang kadipaten Ayah diangkat dadi bupati Banjarnegara. Kadipaten Ayah dhewek statuse dihapus tur digabung karo wilayah liyane.
http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Babad_Banjarnegara#Bupati-Bupati


ASAL-USUL BANJARNEGARA

Carita iki kawiwitan nalika perang Diponegoro, yaiku perange Indonesia mungsuh Walanda. Nalika semana Indonesia isih awujud kerajaan-kerajaan kayata kerajaan Tarumanegara, Samudera Pasai, Mataram lan sak panunggalane.
Nalika perang Diponegoro kababar akeh para prajurit, tumenggung, kawula lan liya-liyane kang budhal perang. Semono uga R.Tumenggung Dipoyudi IV, salah siwijining Tumenggung ing Mataram uga budhal ing paprangan. Senadyan abot, nanging dheweke kudu bisa ninggalake kaluargane kang dtresnani banget, iki sadermo kanggo kapentingan Negara.
Sadurunge paprangan kawiwitan Raja, Tumenggung, lan para panasehat Raja nganakake Pasewakan Agung saperlu kanggo ngrembug babagan perang. Ana Pasewakan Agung Raja ngutus R.Tumenggung Dipoyudo IV supaya mimpin paprangan, banjur menehi keris kang sekti mandraguna.
Ana kana Raja uga dhawuh marang R.Tumenggung Dipoyudo IV, “Aja pisan-pisan sliramu lan wadyabalamu (prajuritmu) ngadohi benteng pertahane dhewe amarga bisa cilaka dadine.” Mangkana dhawuhe Raja. Pasewakan Agung ditutup. Kabeh padha ngerti tugase dhewe-dhewe. Ora ganti suwe R. Tumenggung lan wadyabalane wis kumpul dadi siji ing alun-alun saperlu nyiapake paprangan. Ana pasukan kang nggawa parang, pedhang, panah lan gaman liyane kabeh dadi siji nyawiji ing paprangan, aba-aba muni, paprangan kawiwitan sorak-sorak para prajurit , suwara pedang, panah, lan bedhil dadi siji thar…..thor……thar….thor. Akeh prajurit Mataram kang mati muspra amarga nglanggar dhawuhe Sang Raja yaiku ngliwati benteng pertahanan. Paprangan sansaya rame, para prajurit akeh kang tumiba amarga kena gamane Walanda. Samparane R. Tumenggung Dipoyudo IV uga kena gamane Walanda. Ora nganti suwe ana mburine R.Tumenggung Dipoyudo IV ana salah siwijining prajurit saka Walanda kang ngamang-ngamang pedang nanging tujune R. Tumenggung Dipoyudo IV bisa nylametake awake yaiku mlumpat saka jaran kang ditunggangi. Ngengingi kahanan kaya mangkono R.Tumenggung langsung mburu prajurit kuwi banjur dipateni. Wusana paprangan rampung walanda bisa dikalahake, Mataram oleh kamenangan. Sawise paprangan rampung R. Tumenggung sakwadyabala uga para petinggi-petinggi Walanda sing dicekel banjur digawa bali menyang kerajaan mataram.
R. Tumenggung banjur sowan dhateng kanjeng Gusti Mataram, matur menawa Walanda bisa dikalahake. Ora liya kejaba bungah ngengengi kahanan mangkono. Kanggo balas jasa marang R. Tumenggung Dipoyudo IV, dheweke diangkat dadi Bupati Banjarnegara adhedhasar Resolutie Governoer General Buitenzorg tanggal 22 agustus 1831 nomor I supaya ngisi jabatan Bupati Banjar kang wis dibusak utawa diapus setatuse kanthi panggonan ing Banjarmangu, banjur dikenal kanthi sebutan Banjarwatulembu. Sawise diangkat dadi Bupati R.Tumenggung kondur ing daleme, ibune kaget banget ngengingi kahanan mangkono. Banjur para Walanda kang dicekel dikunjara dadi tahanane Mataram.
Dadi Bupati ora gampang tumrape R. Tumenggung Dipoyudo IV, dheweke bingung, dheweke kudu bisa nata, ngatur dhaerahe dadi dhaerah kang subur lan makmur. Akeh banget alangane salah sijining yaiku mbludage Kali Serayu kang dadi kendhala angele rerembugan iki dirasakake dadi beban kanggo bupati nalika kudu ngrawuhi Pasewakan Agung ing kasunan Surakarta. Kanggo ngatasi perkara kuwi R. Tumenggung Dipoyudo IV nggawe kaputusan yaiku mindhahake ibukota kabupaten ing sisih kidule Kali Serayu. R.Tumenggung banjur nggoleki dhaerah kang apik kanthi mangembara. Ing tengahing pangumbarane dheweke dicegat bagal nanging dhasare wong pinter geluta karo sapa wae mesthi menange. Ora mung semono ing tengah alas R. Tumenggung uga ketemu wong wadon ayu banget ngrayu supaya ora usah nggoleki dhaerah maneh, luwih becik urip ing tengahing alas kene karo dheweke, sing sejatine iku iblis. R. Tumenggung mung mesem ngguyu. Banjur teka mbah-mbah kang nuduhake yen sisih alas kana ana dhaerah kang apik nanging kanyata dhaerah mau among jurang.
Ing kana R. Tumenggung banjur nyekel ula gedhe, ula iku ngomong, “Aku aja dipateni, Den.” Dheweke banjur ngeculake ula mau.
Pungkasan R. Tumenggung nemokake dhaerah anyar, kaanane dhaerah sing anyar iku wujude sawah-sawah kang amba kanthi pereng-pereng kang medeni. Panggonan sing isih sawahe (Banjar) iku digawe ibukota kabupaten (Negara) sing anyar sahengga dhaerah iki kasebut dadi Banjarnegara (Banjar: Sawah, Negara: Kota).
http://sastra-jawa007.blogspot.com/2009/12/asal-usul-banjarnegara.html



Basal lan Budaya

Basal lan Budaya





Mulai taun 2010 pemerintah (polisi) mulai netepaken aturan  yen pengendhara motor karo sing mbonceng kudu nganggo helm standar. Tegese helm sing digawe nuruti aturan  SNI (Standart Nasional Indonesia) Tegese, angger pengendhara lan sing mbonceng ora nganggo helm sing padha karo ketentuan, ya ditilang utawa didhendha. Helm sing standar kuwe ana werna loro, sing full face, tegese kabeh endhas ketutup rapet, lan open fice, tegese endhas ketutup mung raine thok sing ke­bukak.

Kaki Bawor maca koran, nang kota Jakarta, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya wis nilang 41.800 pengendhara motor sing nganggo helm sembarangan utawa ora nganggo helm. Jan angka sing cukup dhuwur  nang babagan pelanggaran lalu-lintas. Angger ndeleng jumlah motor sing ana nang Indonesia, angkane nganti 39 juta. Jan-jane angka sing kenang tilang isih cilik banget.Ningen yakuwe, gandheng nang Jakarta, angka sing kena tilang kena kanggo pengemut tumrap pengendhara kon ati-ati, aja nganggo helm sembarangan.

Kaki Bawor kemutan, nalika kawitan ana undang-undang utawa aturan sing prentah pengendhara motor nganggo  helm. Wektu kuwe sing dadi  Kepala Polisi Jendral Hugeng. Tumrap wong Jawa, khususe Yogya, nganggo  helm jan ngrepotaken banget. Keprimen ora repot  jajal, angger ibu-ibu ngagem jarit lan kebaya, jutan nganggo gelung kondhe, motore  lanang, dudu motor bebek. Apa ora nyrimpet. Uga kagem bapake angger kudu nganggo blangkon.

“Ramane, sida  kondangan apa ora”, cluluke mbekayu tebok sekang pedangan, mbuyaraken lamunane Kaki Bawor sing lagi mikir gelung kondhe nganggo  helm.

“Lha sidalah. Jutan  arep  mangkat nganggo apa?.

“Nganggo bis baen lah ramane,nganggo motor ora nana sing mboncengaken. Tur ora nana helm-me, mengko ditilang polisi”, ujare mbakeyu Tebok sing wis sadhar nganggo helm.

“Tebok, nganggo  helm utawa ora ngganggo kuwe jan-jane dudu masalahe polisi, ning sing utawa kuwe masalah keslametan. Mergane, luwih sekang 60 persen kecelakaan lalu-lintas nang ndalan, sing dadi korban kuwe wong sing ora nganggo helm, merga nandang tatu nang endhas” jlentrehe kaki Bawor.

“Iya ramane,seliyane kuwe,inyong sekiye mandan gila lan kamiweden angger nang ndalan gedhe. Akeh montor lan mobil sing ngebut. Apa­maning akeh bocah enom sing penjorangan. Nunggang motor knalpote dibukak, ora nganggo helm, boncengan lewih sekang loro, tur ngebut banter. Angger ana perkara nang ndalan, bocah-bocah kaya kuwe sing biyasane ora slamet “, mbekayu Tebok crita. “O iya ramane, angger helm standar lan sing kudu dienggo kuwe sing kaya ngapa sih’.

Helm standar kuwe helm sing nutup endas kabeh. Nganggo bahan njaba sing atos ora gampang pecah, lapisan njerone empuk utawa nganggo gabus, nek jaman siki jere stereofoam, nganggo tali sing ngunci utawa ditali, supaya angger  tabrakan, helm ora mencolot. Helm uga ora mung dienggo dening pengendhara, ningen uga sing mbonceng.

“Angger kaya kuwe, sekiye ora olih nganggo helm proyek utawa helm cethok ya ramane”, Tebok isih takon.

“Angger ndeleng aturan sih ya ora olih nganggo helm setengah kepala. Ningen senajan ketutup kabeh rapet, tetep helm uga kudu nyaman lan kudu krungu klakson. Tegese nang helem ana bolongan-bolongan kanggo sirkulasi angin lan nggo dalan swara. Men slamet. Klilan.

http://www.panjebarsemangat.co.id/2011/03/30/basal-lan-budaya/

Wayang

Wayang

 

Inyong yakin malahan nek cara wong Arab tah haqul yakin, wong Jawa khususe wong  Banyumas mesthi ngerti, kenal lan seneng maring wayang. Salah siji seni budaya khas sekang bumi Nusantara. 

Merga apa, wayang kuwe wis  dikenal nang seluruh dunya. Pancen sih, asal usule wayang jere monge tah sekang India, yakue liwat crita Ramayana lan Mahabarata. Ningen dening para empu jaman Majapahit lan jaman Walisongo, cerita lan sanggit wayang diowahi, didandani dadi nJawani. Mulane akeh sing ngarani nek wayang kuwe Jawa. Mangkaning nang Indonensia, sing jenenge wayang ora mung nang Jawa, tapi uga nang wilayah seje. Ana wayang Sunda, wayang Betawi, wayang Banjar (Kalimantan selatan) lan liyane.
 
Ningen ya kuwe, wayang sekang Jawa sing wis dikenal nang ndunya, sekiye pandhemene nang Jawa malah wis selot entek. Sekiye wis arang wong nanggap wayang. Warga masyarakat sekiye malah lewih seneng nanggap orgen tunggal sing asale sekang negara atas angin.
 
Nurut warta sekang Pepadi (Perkumpulan Pedalangan Indonesia) jumlah dhalang wayang nang Indonesia (waca Jawa) lewih sekang 300 dhalang. Ningen sing sering detanggap, ora nganti 10 dhalang. Jan apa kiye ora mrihatinaken. Kanggo nutup kebutuhane urip, para dhalang sing ora tau detanggap padha golet liya. Ana sing dadi pegawai negri, pegawai swasta, tukang kayu, tukang batu malah ana sing dadi tukang becak barang.
 
Ooo iya, sing jenenge dhalang uga ora mung dhalang nang panggung, kaya dhalang wayang kulit lan wayang golek. Ningen uga ana dhalang wayang wong, dhalang wayang tulis lan dhalang wayang gambar (komik). Senajan sekiye, akeh penerbitan sing wis ora muat crita wayang. Paling-paling mung majalah basa Jawa (Joko Lodang, Jayabaya lan Penyebar Semangat)
 
“Ramane, kenangapa sih ya  sekiye budaya tradisi, kelebu wayang, kethoprak, lengger, calung, jemblung lan liyane sing jan asli sekang Jawa, kelebu Banyumas wis kelangan pandhemen. Mangkaning, budaya lan seni Jawa kuwe jere dikenal minangka seni lan budaya sing adiluhung, maen nganti deakoni nang seluruh dunya”, mbekayu Tebok golih takon nrithil maring ramane ya Kaki Bawor.
 
“Lha ya kuwe sing mrihatinaken. Apamaning sekiye meh saben kota gedhe ana stasiun televisi, bioskup, lan liyane. Kesenian tradisi sing adiluhung kelebu wayang wis ora diemutaken dening masyarakat. Kiye sing kudu dadi PR tumrape pemerintah dhaerah. Mangkaning, nang dhaerah sekiye ana Dinas Pariwisata, Seni lan Budaya sing kudune majukaken seni lan budaya dhaerah. 

Ningen seemutku, dinas kuwe wong-wonge akeh sing ora pas. Malahan, inyong tau krungu Dinas Pariwisata, seni lan budaya dadi dinas buangan. Dinas sing mandan diemongi dening pegawai pememrintah. Merga, jere monge sih, ora nana dhuwite. Kiye kan jan nlangsani banget”, kaki Bawor nerangaken karo matane temlawung adoh.
 
“Ooo pantesan ya ma, jere para seniman, seni sekiye mung kanggo kesenengan, dudu kanggo profesi, merga wis ora ngasilaken dhuwit. Tegese angger wong dadi seniman, wis kudu kontrak mlarat. Kaya seniman kethoprak apa wayang wong.  Angger mbengi dadi ratu, ningen angger awan dadi kuli nyapu apa tukang becak”, mbekayu Tebok nyauri karo mrebes mili. KLILAN

http://www.panjebarsemangat.co.id/2011/03/02/wayang/

Angkutan Kota

Angkutan Kota



Minggu esuk, kaki Bawor nglencer maring kota, jerem onge sih arep tilik dulur nang kota. Mulane mbekayu Tebok ora dijak. Apa­maning esuk-esuk mbekayu Tebok wis gipyak nang pawon gawe panganan, jere monge arep tilik keponakan sing lagi bayen, apa malah arep aqekahan. Senajan dijak, anake kaki Bawor  kayane ora gelem melu, merga wis duwe janjian dhewek.

Metu sekang umah sing mandan mlebu nang gang, kaki Bawor ngadhang bis sing arep nggawa maring kota. Ora nganti setengah jam, bis-e wis teka. Ora nganggo detawani, bareng bise wis mandheg, kaki Bawor gagean mlumpat mlebu bis. Bareng kaki Bawor mlebu bis, kaki bawor bingung merga bis-e kosong.

“Bis kosong kaya kiye, tekan kota apa ota pir”, takone kaki Bawor maring supire.

“Aja kewatir ramane, pokoke rika tekan maring kota”, ujare supir karo ngempakaken udud nang lambene. Jere supir, sekiye golet penumpang jan angele ora etung. Sekang terminal mangkat tekana terminal sing detuju, kadhang mung bisa dienggo tuku bensin thok, saking akehe bis. Liyane kuwe, akeh bis sing tujuane sejen. Ningen nyenggol trayek bis jurusan liyane. Kamangka sing jenenge bis nang kabupaten, penumpange mung edhek-edhek.

“Ramane, sekiye wis akeh wong padha duwe montor. Sejuta ben bisa duwe montor, mbuh sing anyar utawa seken”, ujare supir bis.

Ora nganti sejam, Kaki Bawor  wis tekan kota. Penumpang bus nang kaki Bawor dietung ora nganti wong selusin. Mangka bis cilik kuwe muat penumpang nganti 32 wong. Jan apa ora melasi supir karo kenete sing godhe sedina med, mulai Subuh tekan bar Isya tembe laut.

Tekan terminal tujuan, kaki bawor ganti nganggo angkutan kota. Kaki Bawor pilalah nunggoni angkutan kota sing ngetem nang terminal. Ningen ya kuwe mau, ngetem luwih sejam, penumpang sing munggah angkot mung wong telu. Sidane karo grenengan sopire tetep mangkat. Merga angkot sing nunggu antri nang, mburine nganti dawa pisan.

“Sekiye golet penumpang angel banget ramane”, ujare supir angkot maring kaki Bawor sing njagong nang ngarep jejeran karo supir.

“Apa mergane pir, mangkaning lagi mulai ana angkot nang kota, penumpange nganti luber”, kaki Bawor genti takon.

“Ma, sekiye sing jenenge montor tulih jan akeh ora etung. Kayane meh saben umah padha duwe montor. Nganggo montor sedina mung entek dhuwit nggo bensin mung 5 ewu perak. Lha angger nganggo angkot dhuwite luwih akeh. Lha kiye salah sijine sing ndadekaken angkot tambah sepi penumpang. Seliyane kuwe sing jenenge angkot saben dina terus tambah, pokoke angger ana tambahan angkot, pemerintah dhaerah/kota liwat Dinas Perhubungan terus baen neken ijin, senajan angkot susah golet penumpang, merga penumpange pancen sengsaya suda.

Kaki Bawor nunggang angkot sekang terminal mung dekancani wong telu. Nganti kaki Bawor medhun, penumpange ora nambah. Jan melasi banget. Endi sing kudu desalahaken, ningen sing jelas, montor karo angkot pencen sengsaya ekeh, penumpange ora nambah. KLILAN

http://www.panjebarsemangat.co.id/2011/04/12/angkutan-kota/

Basa lan Budaya

Basa lan Budaya



Mbekayu Tebok lagi usreg nang pedagangan nalika krungu swara tilpun muni. Ya, jamane pancen  wis mulai maju, senajan urip nang ndesa, sekiye meh saben wong duwe HP alias Hand Phone. Malahan, telpon kabel sing gemiyen regane larang tur pasange uga perlu wektu, sekiye malah ora payu, jerene angger nganggo telpon  kabel ribed. Mangkaning, telepon kabel sekiye jan  malahan murah klerah.

Karo mandan mesem, mbekayu Tebok marani HP sing ngglethak nang meja, jejeran karo radio karemane  Kaki Bawor. Ndeleng nomer sing nyambung, mbekayu tebok mandan  jenggureng, merga durung  apal karo nomere sing tilpun. Kuwe tegese, mbekayu Tebok pancen durung wawuh karo sing nilpun.

“Niki  napa mbekayu Tebok, anake Kaki Bawor”

“Lha  enggih koh, sampeyan sinten”

“Inyong Ripin anake kaki Jaya. Anu kiye inyong nang rumah  sakit. Ngabari, kaki Bawor digotong nang  rumah sakit. Sirahe mlothas gubras getih”, Ripin blaka suta

Krungu  kabar ramane nang rumah sakit, mbekayu Tebok  njempling kaget, nganti  tanggane  krungu,  terus ngrubung nang nggone kaki Bawor.

“Kenangapa mbekayu, koh njempling karo gidro-gidro. Ana apa jajal crita sing genah”, takone Rasno, tanggane  kaki Bawor sing tunggal latar.

“Rasno…….. Rasno…, ramane digotong maring rumah sakit, jere endhase mlothas, yu  gageh jujugaken inyong maring rumah sakit”, ujare mbekayu Tebok karo ngelapi  matane sing nangis terus.

Tekan rumah sakit, mbekayu Tebok weruh  ramane lagi didhabyang-dhabyang  munggah maring becak, arep digawa bali nang Ripin, tangga tunggal Rukun Warga.
“Ramane kenang ngapa Ripin….. takone mbekayu Tebok, karo nubruk ramane sing wis diunggahaken maring  becak”.

“Dibandhem bocah tawuran. Bocah padha nonton bal-balan. Ningen njuran malah padha gelut, tawuran lan bandhem-bandheman watu. Ramane sing ora ngerti apa-apa dadi kurban. Jajal apa ora melas ndoresani’ Jawabe Ripin karo nyurung becak sing sidane ditunggangi nang kaki Bawor karo mbekayu Tebok.

Tekan ngumah kaki Bawor tembe gelem crita maring Ripin, Rasno karo mbekayu Tebok. Kaki Bawor ngaku, jere sekang umahe Kang Supar Jasminto, takon acara ulang taun kabupaten Banyumas. Sekang umahe kaki Supar, njuran mampir nonton bal-balan nang lapangan. Bal-balan ulang taun sing hadhiahe sapi karo wedhus. Ningen ya kuwe, bareng ana kesebelasan sing kelebon, njuran terus antem-anteman antar pemain karo antar penonton. Pulisi sing njaga ora teyeng nangani. Sidane, golih  padha tawuran nganti tekan ndalan. Lha kaki Bawor karo kendharaan sing padha liwat, melu dadi sasaran. Apa kiye tegese ora melas ndoresani. Wong sing  ora salah melu dadi kurban.

“Ramane, pancen sekiye bal-balan wis salah urus. Sekang ngisoran tekan ndhuwuran yakuwe PSSI,  bal-balan ora ndadekaken kejuaraan. Ningen malah  dadi ajang antem-anteman. Endi sing salah, ya kiye sing kudu dipetani. Supaya bal-balan sing dadi olahraga rakyat, dadi ajang kejuaraan, dudu ajang antem-anteman”, Ripin nimbrungi.

“Genah koh Ripin. Mayuh awake dhewek melu nyontoni maring anak putu, kon aja padha  gegoh aja padha reyang. Melas wong sing ora salah.  Angger bal-balan tentrem, rasane inyong, prestasine mesthi munggah. Temenan kuwe.  Klilan





Mbekayu Sari

Mbekayu Sari




Jenenge Sariyahwati, piyayi Kroya dadi garwane mas Jumali sing asli Yogyakarta. Ningen nang dunyaning radio nang Jabotabek, lewih tenar nganggo jeneng Sari Jumali, bakul gethuk goreng Sokaraja radio swasta niaga sing mangkal nang Duren Sawit Jakarta Timur.

Nurut kanca-kanca nang Paguyuban Pendengar lan Penyiar Radio Banyumasan, jeneng Sari Jumali lewih tenar utawa moncer ketimbang pejabat. Mangkaning Sari Jumali pegaweane mung dadi bakul gethuk nang radio. Ningen ya kuwe, pendhemen lan pendengare jumlahe ora wilangan, mbok menawa malah nganti ewon nang Jabotabek. Buktine apa angger dagangane mbekayu Sari Jumali payu, pendengar lan pandhemen sing kepengin sambung angele jan kebangeten.

“Nganti drijine kriting nggo telpun, meksa ora bisa sambung. Mangka siarane mbekayu Sari 4 jam saben ndinane”, ujare mbekayu Trisontang, salah sijine pendengar lan pendhemen acara gethuk goreng Sokaraja.

“Ramane, kenangapa sih ya mbekayu Sari nang radio koh pen­dhemene akeh pisan ya. Ora mung pendengar sing asli Banyumasan thok, ningen kelebu sekang njaba rangkah. Kaya sekang Yogya, Solo lan Jawa Timuran” takone Tebok nalika kleyang maring Depok melu ngrungokaken siaran radio Banyumasan.

“Ooooo kuwe. Modal kepisan dadi penyiar kuwe ya grapyak lan semanak. Sabar ngladeni kepenginane pendengar lan pandhemen, lan pergaulane nang sanjabane radio jan dijaga banget. Aja mung grapyak nang jero radio selagine siaran nang studio. Ningen nang njaba  detakoni batir baen mlengos “, ujare kaki Bawor.

“Ramane, mbekayu Sari tulih embok piyayi sekang Kroya ya”, Tebok isih takon.

“Sari Jumali pancen asli Kroya, wis suwe nang Jakarta. Ningen gaule karo kanca-kanca sekang Banyumas tansah dijaga. Lha kuwe sing dadi modal nggone siaran nang radio. Mulane kuwe mau, jenenge lewih terkenal tenimbang pejabat. Nalika ana acara Banyumasan, kelebu acara halal bil halal keluarga Seruling Mas nang Taman Mini, mbakeyu Sari sing kepatah dadi pembawa acara. Dhasar piyayine ayu moblong, grapyak semanak, mulane tambah-tambah desenengi dening pendhemene. Sing biyasane mung krungu suwarane thok, mbasan ana acara nang Taman Mini, bisa ketemu karo piyayine”, kaki Bawor nerangaken.

Nurut Kaki Bawor , penyiar radio kuwe seliyane kudu grapyak lan semanak, uga kudu paham pisan karo seni lan budaya dhaerah sing dadi tugase. Contone, angger dadi penyiar Banyumasan, ya kudu paham lan ngreti karo budaya, seni lan sejarah Banyumas. Merga, angger  lagi siaran, biasane ana pendengar sing takon sejarah, seni lan budaya. Uga kudu ngerti model gendhing-gendhing Banyumasan. Kayane koh lucu angger penyiar Banyumasan ora ngerti gendhing Kembang Glepang utawa ricik-ricik Banyumasan. Utawa, penyiar Banyumas koh ora paham maring Kaki S Mbono, empu gendhing Banyumasan.

“Ma, angger inyong arep nglamar dadi penyiar Banyumasan nang Jakarta olih apa ora nang rika ramane”, takone mbekayu Tebok.

“Inyong tah ya ngidini ko dadi penyiar. Ningen angger ko kon siaran utawa kon nembang kaya sinden, kayane pendengar tah njutan mateni radio. Merga suwarane kaya gledhegan jaran sing bane copot”, kaki babwor mesem. Mbekayu Tebok mrengut. KLILAN
 



P3RB (Paguyuban Pendengar Penyiar Radio Banyumasan) sing diketuai dening Bp Sutardi, sekertariat nang Jl H.Samali Ujung no 19 Ps Minggu, kebeneran P3RB wis duwe AD / ART wiwit tanggal 13 April 2008, ditulisna karo Mulyono.
http://map-bms.wikipedia.org/wiki/KKB


Bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-3, Pengurus dan seluruh anggota Paguyuban Pendengar, Penyiar Radio Banyumasan (P3RB) yang ada di Jakarta akan mengadakan tour ke beberapa tempat rekreasi di wilayah Banyumas, termasuk Kabupaten Cilacap pada tanggal 09 sampai dengan 12 April mendatang.
“ Selain untuk menghilangkan kepenatan dan kejenuhan, tour ini bertujuan untuk mengetahui lebih dekat tentang seni dan budaya yang ada dan dimiliki oleh wilayah yang kami kunjungi ”, ujar Ketua Payuyuban, Sutardi.
"Rombongan tour direncanakan berangkat dari depan Makam Pahlawan Kalibata Jakarta tanggal 9 April 2009 malam”, lanjutnya.
Setelah berwisata di Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purbalingga, hari minggu pagi, rombongan direncanakan tiba di Kabupaten Cilacap.
Sebelum berwisata ke beberapa obyek wisata seperti Pantai Teluk Penyu, Pantai Indah Widarapayung, Benteng Pendem dan Pulau Nusakambangan, rombongan terlebih dahulu akan beramah tamah dengan Bupati Cilacap dan Komunitas Radio Cilacap di Pendopo Wijayakusuma Sakti Cilacap.(vb)